Thursday, August 18

potret kaum miskin kesandung birokrasi

review pilem (tipi) – sayekti dan hanafi

semalem aku nonton pilem yang keren puol. bukan, bukan pilem layar lebar. produk layar kaca, malah.

berlabel sayekti dan hanafi, remake pilem lawas berjudul sama—diputer di tvri taon 1988 (kalo nggak salah, hehehe... info source-nya rada nggak kredibel tuh)—ini hasil kerjasama rcti dan dapur film community, diputer di rcti pas 17 agustus 2005, jam sembilan malem.

dulu, pas 1988, kursi sutradara diduduki (almarhum) erwin syah, yang juga ”jadi” hanafi. tujuh belas taon berselang, hanung bramantyo—sineas yang kerap memotret derita masyarakat kelas bawah dan borok-borok kelas atas—gantian duduk di kursi itu.

cerita sayekti dan hanafi lumayan simpel. soal buruh panggul bernama sayekti (widi mulya), yang nggak sengaja jatuh dan ngalamin perdarahan pas hamil tua. teman-teman hanafi (agus kuntjoro), suami sayekti, langsung nganterin sayekti ke rumah sakit. saking paniknya, mereka malah nganter sayekti ke rumah sakit swasta, yang dari dulu nggak sungkan-sungkan matok ongkos pengobatan yang naudzubillah mahalnya.

lanjutannya gampang ditebak: hanafi yang ”cuma” tukang becak nggak sanggup bayar biaya persalinan istrinya. terang aja, wong angkanya nyampe 3,5 juta perak!

sayekti sontak kebingungan, pikiran-pikiran jeleknya mulai nongol. ini acungan jempol pertamaku buat hanung dan arif soeprapto yudho (screenplay writer), yang sanggup ngebidik dengan akurat emosi seorang ibu yang baru melahirkan.

toh hanafi tetep berusaha menenangkan istrinya. padahal, dia sendiri nggak bisa tenang. jelas bingung, rek! biar ngayuh becak saban hari, itu pun kalo bisa lolos razia, kapan dia bisa ngelunasin utangnya?

selembar ”surat sakti”—yang didapat dengan kelewat susah payah—dari pak er-te, pak er-we, dan pak lurah pun seolah nggak berguna. ”hotel bintang lima yang penuh dengan manusia mulia” itu tetep ogah ngasih gratisan. diskonnya separuh doang, tapi tetep nggak kebayang buat seorang hanafi: 1,6 juta perak!

saking stresnya, ditambah rokok yang makin kenceng (ini juga hebatnya pencetus cerita, bisa ngerti kalo kalangan akar rumput, biar idup susah gimana pun, nggak bakal bisa lepas dari belitan nikotin), hanafi sakit keras.
sayekti jelas butuh kerja. makin lama dia nginep di ”hotel bintang lima”, makin gede pula utangnya. karena itu, dia bela-belain balik ke pasar kumuhnya, sibuk lagi sebagai buruh panggul. tanpa mikirin nifas* yang belum beres!

nyampe sini, berbagai karakter menarik mulai nongol. mulai dari pak kepala pasar yang rela minjemin sayekti duit asal perempuan itu melayani napsu birahinya, mpok dari medan yang berani dan berjiwa ksatria, sampe pelacur berhati tulus. ada juga suster galak, mas wartawan bernurani bersih, mas redaktur yang tega ngelakuin apa pun biar oplah korannya (tau nggak, koran di pilem ini ternyata koran anyar yang saingan berat sama je-pe: sindo!**), bahkan aktris sinetron yang pengin ngadopsi buah hati sayekti-hanafi demi popularitas.

yang paling menarik dari pilem ini, selain ceritanya yang begitu mengulik kalbu, adalah detail setting-nya. pasar nan kumuh, juga pelabuhan yang dipayungin terik mentari, lengkap bareng ikan-ikan busuk, kapal-kapal karatan, dan bocah-bocah bercelana kolor dengan senyum lugu. pas banget sama karakter sayekti dan hanafi, ”anggota tetap” akar rumput yang seolah nggak pernah cerai sama derita.

hanung nggak lupa juga ngejepret tawa di sela bau amis dan becek. tawa sejati yang kerap kita lupain selama ini. tawa renyah yang ngalirnya cuma pas kita nyadar kalo ada manusia lain yang siap memapah di saat tubuh kita terhuyung lemas. duh, jadi pengin nangis lagi, padahal semalem aku dah nangis bolak-balik…

soal akting, emangnya kita perlu ragu sama agus kuntjoro? dia mah udah akrab sama kamera, biasa nerima peran-peran yang senada sama karakter hanafi, dan pastilah karena itu aktingnya keliatan natural banget. gitu juga hajjah neno warisman, yang boleh dibilang bernostalgia lewat pilem ini, soalnya dialah sayekti taon 1988 (dia ”jadi” direktur rumah sakit kali ini).

ironisnya, seorang pendatang baru jadi scene stealer di pilem ini. performanya justru melampaui aktor dan aktris kawakan itu. dialah widi mulya, personel ab three.

bikin kaget, memang. kukira widi cuma gape nyanyi, eh ternyata malah lebih jago akting. boleh dikata, widi pantesnya malah akting, bukan nyanyi (meski bukan berarti suaranya jelek lho).

liat aja adegan pas dia berlarian di koridor rumah sakit, pas pengin menjemput anaknya. haduh, keliatan banget perasaan girangnya. perasaan senang seorang ibu yang bakal ketemu buah hati abis sekian lama kepisah. perhatiin juga adegan pas dia berdiri di dermaga mungil, dinaungi langit senja yang cantik. meski bukan close up, di situ kental banget nuansa kepasrahan seorang manusia pada Sang Khalik.

soal script versi remake ini, aslinya aku belum terlalu puas. masih ada komentar bertele-tele (rasanya malah kayak monolog), terutama yang terluncur dari bibir mpok medan. tapi, secara umum, apalagi kalo diperhatiin dari alurnya yang begitu lancar, sayekti dan hanafi masih tetep pilem televisi terbaik (sampai detik ini).

intinya, bravo dah buat hanung bramantyo. dan rcti, yang berani melakukan sesuatu yang baru di blantika perfilman televisi: remake. ini berarti, teoriku terwakili: siapa bilang tayangan pilem di televisi kudu ngangkat cerita konyol dengan setting kelewat mewah? yang simpel pun, kayak potret kaum miskin kesandung birokrasi ini, bagus juga kok. nyaris perfect, malah.


cerita: 8/10
script: 7/10
akting: 8/10
kamera: 7/10
setting: 7/10
average: 7/10


* perempuan yang baru melahirkan pasti mengalami masa nifas, di mana darah dan sisa-sisa air ketuban keluar (mirip haid, cuma kuantitasnya lebih gede) dari rahim. biasanya berdurasi 3 bulan, tapi teknologi medis hare gene bisa kasih diskon; jadinya paling mentok 1 bulan. pas nifas, dilarang banyak gerak, apalagi ngangkat barang berat-berat. kata ibu mertuaku, kalo pantangan itu nggak diturutin, bisa-bisa rahim malah jebol. tapi, biar nggak ada pantangan macem gitu, perempuan yang lagi nifas pasti penginnya istirahat mulu; hamil dan melahirkan tuh nguras energi, tau! dian ara aja sampe digendong-gendong terus sama iwe selama nifas!
** je-pe: jawa pos, sindo: seputar indonesia (koran anyar yang lahir dari rahim rcti/bimantara group). beberapa bulan lalu, je-pe gonjang-ganjing lantaran masalah manajemen, bikin puluhan wartawan dan redaktur seniornya ”bedol desa” ke sindo.


- i may not like what you say, but i’ll fight to defend your right to say it. -

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Koreksi : Yang jadi Hanafi taon 1988 itu Wawan Wanisar, bukan sutradara Irwinsyah. Wawan Wanisar juga maen di film "Nagabonar"-nya Deddy Mizwar, gitu..

April 02, 2006 11:07 PM  

Post a Comment

<< Home