er-te 4 vs er-te 5
”tanggal 17 agustus, hari apaan tuh?”
ponakanku—berumur 4 taon—punya jawaban paling simpel dan cerdas, ”hali lombaaa!”
yup! 17 agustus. hari ketika seluruh kalangan di negeri ini bisa hepi-hepi bareng. hari ketika lomba-lomba unik bin nyeleneh digelar di berbagai kampung. termasuk di kompleksku, griya permata gedangan sidoarjo.
namanya pesta rakyat, pastilah konsep lombanya wajib merakyat. alhasil, sepakbola kecantum dalam menu lomba er-we 8.
peserta dibagi jadi dua kelompok: bapak-bapak dan ibu-ibu. yang unik, kelompok pertama kudu pakai daster istri, sementara kelompok kedua kudu pakai sarung suami. aturan mainnya nggak jauh beda dibanding sepakbola profesional: kedua tim—masing-masing lima pemain—beraksi dalam dua babak (15 menit perbabak), dengan break sejenak di tengah.
singkat cerita, er-te-ku—er-te 4—lolos ke semifinal. tinggal satu tiket menuju final, dan tiket itu kudu diburu sore kemaren. aku, sebagai ketua pe-ka-ka (cieee…) er-te 4, tentulah nongol dekat lapangan dan kasih dukungan.
sesaat menjelang kick off, tim er-te 4 dan tim lawan, er-te 5, bersiap di sudut lapangan. mereka buru-buru ngelilit sarung di pinggang, ngiket pita kuning di lengan, dan… ngerapiin rambut!
sementara suami-suami mereka—sembari menggendong si kecil—sibuk kasih semangat. sesekali ngebisikin instruksi pula. dan… this is it, folks!
* commentator mode on *
bola ditendang oleh bu adi, diterima bu sarjono… aaah! sayang sekali, bu tobing dari er-te sebelah mampu memblokir, dan dia langsung mengoperkannya pada bu agung. bu agung menggiring bola, tapi terlepas… disambut bu mardi… berhasil dihalau oleh bu agung, dan dia menendangnya ke arah… wasit!
sekali lagi, bola ditendang oleh bu tobing… disambut bu harry… dioperkan pada bu fajar, daaan… lho, ke mana bolanya, sodara-sodara? olala, bolanya melesat keluar lapangan, sementara seluruh pemain dari kedua tim tetap bergerombol di salah satu sudut dan memperebutkan entah apa.
yak, seperti yang bisa kita lihat, bola itu ternyata ditemukan oleh dadang, putra kesayangan bu agus yang baru berumur 2 tahun. wasit mulai mendekati dadang, tapi dadang berlari menjauh sambil menjerit-jerit ketakutan. jelas sekali, sodara-sodara, pertandingan ini terpaksa dihentikan sejenak, karena dadang belum juga mau melepaskan bola temuannya. sementara itu, kedua tim rupanya memanfaatkan waktu yang sangat berharga ini. mereka buru-buru mendekati sudut lapangan untuk minum air dan memperoleh sejumlah instruksi dari suami tercinta…
* commentator mode off *
tadinya, aku sempet nyangka kalo pertandingan sepakbola antar-er-te itu bakal ngebosenin. nggak layak tonton. ternyata aku keliru. pertandingan itu nggak kalah menarik dari serie a!
bayangin aja! sepuluh ibu separuh baya berebut satu bola tanpa ngerti apa yang mereka lakuin, ditemenin pak wasit, disemangatin suami-suami yang berlagak ala sir alex ferguson, arsene wenger, dan jose mourinho.
ironisnya, masih banyak pemain bola dadakan itu yang nganggep sepakbola sinonimnya basket. malah, dua kali terjadi, seorang pemain memeluk bola deket gawang. tentu, para ”pelatih” protes keras pas pak wasit mutusin, pelanggaran itu cukup dibayar dengan tendangan bebas. ”penalti, sit! penalti!”
tapi pak wasit tetep keukeuh. rupanya dia lebih takut dimarahi sang pemain, yang ternyata adalah istrinya!
kadang, pak wasit lupa kalo pertandingan yang dia pimpin rada unik. mungkin dikiranya pertandingan biasa antara persebaya versus persib. alhasil, pas seorang pemain kudu memainkan tendangan sudut, dia menjerit kesel, ”tendangan sudut, tendangan sudut! ibu jangan melempar dari situ… dari sudut dong, dari sudut!”
histeria yang sia-sia. soalnya si pemain malah diam sambil memeluk bola. tatapan matanya bingung. lha, sudut lapangan yang mana yang pak wasit minta? kan ada empat…
singkat kata, pertandingan lucu nan tragis itu berjalan lancar, kecuali gangguan kecil dari si dadang. dengan skor akhir 0-1, er-te 4 gagal ngantungin tiket ke final. tapi semua senang. semua have fun. toh, itu kan makna tulen dari tanggal 17 agustus? hepi-hepi aja meski harga minyak tanah melonjak!
- i may not like what you say, but i’ll fight to defend your right to say it. -
ponakanku—berumur 4 taon—punya jawaban paling simpel dan cerdas, ”hali lombaaa!”
yup! 17 agustus. hari ketika seluruh kalangan di negeri ini bisa hepi-hepi bareng. hari ketika lomba-lomba unik bin nyeleneh digelar di berbagai kampung. termasuk di kompleksku, griya permata gedangan sidoarjo.
namanya pesta rakyat, pastilah konsep lombanya wajib merakyat. alhasil, sepakbola kecantum dalam menu lomba er-we 8.
peserta dibagi jadi dua kelompok: bapak-bapak dan ibu-ibu. yang unik, kelompok pertama kudu pakai daster istri, sementara kelompok kedua kudu pakai sarung suami. aturan mainnya nggak jauh beda dibanding sepakbola profesional: kedua tim—masing-masing lima pemain—beraksi dalam dua babak (15 menit perbabak), dengan break sejenak di tengah.
singkat cerita, er-te-ku—er-te 4—lolos ke semifinal. tinggal satu tiket menuju final, dan tiket itu kudu diburu sore kemaren. aku, sebagai ketua pe-ka-ka (cieee…) er-te 4, tentulah nongol dekat lapangan dan kasih dukungan.
sesaat menjelang kick off, tim er-te 4 dan tim lawan, er-te 5, bersiap di sudut lapangan. mereka buru-buru ngelilit sarung di pinggang, ngiket pita kuning di lengan, dan… ngerapiin rambut!
sementara suami-suami mereka—sembari menggendong si kecil—sibuk kasih semangat. sesekali ngebisikin instruksi pula. dan… this is it, folks!
* commentator mode on *
bola ditendang oleh bu adi, diterima bu sarjono… aaah! sayang sekali, bu tobing dari er-te sebelah mampu memblokir, dan dia langsung mengoperkannya pada bu agung. bu agung menggiring bola, tapi terlepas… disambut bu mardi… berhasil dihalau oleh bu agung, dan dia menendangnya ke arah… wasit!
sekali lagi, bola ditendang oleh bu tobing… disambut bu harry… dioperkan pada bu fajar, daaan… lho, ke mana bolanya, sodara-sodara? olala, bolanya melesat keluar lapangan, sementara seluruh pemain dari kedua tim tetap bergerombol di salah satu sudut dan memperebutkan entah apa.
yak, seperti yang bisa kita lihat, bola itu ternyata ditemukan oleh dadang, putra kesayangan bu agus yang baru berumur 2 tahun. wasit mulai mendekati dadang, tapi dadang berlari menjauh sambil menjerit-jerit ketakutan. jelas sekali, sodara-sodara, pertandingan ini terpaksa dihentikan sejenak, karena dadang belum juga mau melepaskan bola temuannya. sementara itu, kedua tim rupanya memanfaatkan waktu yang sangat berharga ini. mereka buru-buru mendekati sudut lapangan untuk minum air dan memperoleh sejumlah instruksi dari suami tercinta…
* commentator mode off *
tadinya, aku sempet nyangka kalo pertandingan sepakbola antar-er-te itu bakal ngebosenin. nggak layak tonton. ternyata aku keliru. pertandingan itu nggak kalah menarik dari serie a!
bayangin aja! sepuluh ibu separuh baya berebut satu bola tanpa ngerti apa yang mereka lakuin, ditemenin pak wasit, disemangatin suami-suami yang berlagak ala sir alex ferguson, arsene wenger, dan jose mourinho.
ironisnya, masih banyak pemain bola dadakan itu yang nganggep sepakbola sinonimnya basket. malah, dua kali terjadi, seorang pemain memeluk bola deket gawang. tentu, para ”pelatih” protes keras pas pak wasit mutusin, pelanggaran itu cukup dibayar dengan tendangan bebas. ”penalti, sit! penalti!”
tapi pak wasit tetep keukeuh. rupanya dia lebih takut dimarahi sang pemain, yang ternyata adalah istrinya!
kadang, pak wasit lupa kalo pertandingan yang dia pimpin rada unik. mungkin dikiranya pertandingan biasa antara persebaya versus persib. alhasil, pas seorang pemain kudu memainkan tendangan sudut, dia menjerit kesel, ”tendangan sudut, tendangan sudut! ibu jangan melempar dari situ… dari sudut dong, dari sudut!”
histeria yang sia-sia. soalnya si pemain malah diam sambil memeluk bola. tatapan matanya bingung. lha, sudut lapangan yang mana yang pak wasit minta? kan ada empat…
singkat kata, pertandingan lucu nan tragis itu berjalan lancar, kecuali gangguan kecil dari si dadang. dengan skor akhir 0-1, er-te 4 gagal ngantungin tiket ke final. tapi semua senang. semua have fun. toh, itu kan makna tulen dari tanggal 17 agustus? hepi-hepi aja meski harga minyak tanah melonjak!
- i may not like what you say, but i’ll fight to defend your right to say it. -
2 Comments:
hi dian... ini gue pussicat KG....
gue ketawa ngakak baca commentator loe itu.... sumpee... lucu banget... jadi bisa ngebayangin situasinya....^_^
kita exchange link yuk...
gue ada di http://cat-on-the-roof.blogspot.com
ama
http://deetopia.blogspot.com
hai juga, deetopia... atau lebih tepatnya, puccitet kan? :)
oke deh, tuh link-mu dah kupasang.
tx bgt yah.
Post a Comment
<< Home