Wednesday, July 20

wrong leader at the wrong place at the wrong time of the wrong...

seumur idup aku selalu didapuk jadi ”pimpinan” di tempat yang keliru tepat pada saat yang keliru.

pas es-em-pe, mungkin gara-gara nilai bahasa inggrisku paling tinggi seantero sekul (cieee… narsis dikit boleh kan?), aku ditunjuk jadi ketua klub bahasa inggris. padahal, waktu itu aku baru kelas satu, sementara anggota lain kebanyakan kelas tiga.

lebih parahnya, klub itu klub paling nyebelin sedunia. anggotanya anak-anak tajir, semua berlagak layaknya keturunan donald trump. pertemuan kudu digelar minimal di dunkin donuts atau mc-d (kalau nggak, nggak bakal ada yang datang). semua nongol pakai civic genio, bmw, bahkan mercy.

lha aku? dianter sopir juga sih, tapi mobilnya berpelat kuning. lengkap dengan stiker huruf gede di kaca depannya!

udah gitu, sepanjang pertemuan mereka ngerumpiin cowok dan tren fashion teranyar. kamus dan buku tebel-tebel dibiarin bobok pules di kursi. padahal, begitu aku nyerocos (dalam bahasa inggris), mereka melongo. nggak ngerti artinya, hahaha…

gitu juga pas gawe di deteksi. aku diterima sebagai surveyor generasi kedua. deteksi baru sebulan, aku 18 taon. sementara 24 surveyor lainnya rata-rata berumur 22 – 25 taon. artinya, aku masih sempet ngerasain bagi-bagi kuesioner di halte bis, mal, dan stasiun. juga sempet ngalamin rapat-rapat mengerikan, di mana ide-ideku bernilai setengah suara, sementara ide-ide surveyor lain bernilai dua suara.

well, mereka boleh saja nganggap aku pupuk bawang, tapi darth vader* punya pikiran beda. delapan bulan berikutnya, aku dicomot jadi penulis—penulis muda generasi pertama, karena sebelumnya penulis deteksi rata-rata berumur 25 – 30 taon. tapi toh, lagi-lagi aku yang paling bontot dalam jajaran penulis itu. maklum, keempat penulis lainnya juga ditarik dari surveyor.

lebih celaka lagi, lima bulan berikutnya (pas umurku tepat 19 taon) aku didapuk jadi editor (redaktur). dua taon lebih aku menjabatnya, tapi setaon pertama serasa neraka.

bayangin! anak buahku sekitar 70 orang, rata-rata berumur 22 – 30 taon. divisi grafis (lima orang, semuanya cowok) malah keitung senior di je-pe**. dan mereka ogah dipimpin bocah cewek yang imut-imut. alhasil, tiap malam aku kudu ngadepin lima manusia keras kepala, yang kalau ngambek bisa nyebelin puol. mulai dari mas bagus yang suka bolos, mas iwe yang langsung ngebentak-bentak saban idenya nggak diterima atau dicampuri ide orang lain, sampai mas obed yang doyan walk out di tengah rapat. mas opick sih mending, tapi dia lebih banyak diem. mas chis yang paling sabar dan pengertian, tapi kerjaannya lambat dan jelek (ini mah penilaian darth vader, tapi toh aku juga yang ketiban amukannya kalau ada garapan anak grafis yang nggak cocok sama seleranya).

itu baru satu divisi. belum keitung divisi koordinator, surveyor, bahkan penulis. yang paling bikin syok adalah ”bentrokan”-ku dengan salah satu penulis paling cerdas di deteksi (namanya nggak perlu disebutin, soalnya dia suka mampir ke blog ini, hehehe…). pertengkaran itu dahsyat banget, dia sampai ngebanting pintu redaksi. waktu itu aku memang mangkel lantaran sikapnya yang kurang ajar banget, tapi sisi positifnya justru keliatan belakangan ini. paling nggak, aku belajar jadi pimpinan yang lebih dewasa dan bijak. bahkan meski sikapku itu dianggap kelewat ”lembek” oleh darth vader, yang selalu menuntutku memimpin deteksi dengan tangan besi.

selain itu, seolah masalahku belum cukup parah, tiap hari darth vader berhasil nemuin ”dosa”-ku. mulai dari bentakan tujuh oktaf, tendangan, sampai lemparan kertas, jadi santapan rutinku. selama setaon penuh!

herannya, semua itu nggak bikin aku kapok gawe di deteksi. mungkin lantaran aku (waktu itu) ngerasa bego beneran, dan apa yang dilakuin darth vader cuma buat ngajarin aku. malah, aku sempat berterima kasih buat kekerasan dan disiplinnya itu. soalnya, begitu lepas dari je-pe, kerja di media mana pun rasanya jadi enteng banget.

yang paling nyebelin (dan bikin aku sering nangis) justru sikap para senior di je-pe. pas deteksi masih ”orok”, mereka suka bersikap sirik. omongan miring soal deteksi, tiap minggu pasti mampir di kupingku. bikin mangkel, jelas. tapi aku nggak ngerti kudu curhat ke siapa, teman-teman di deteksi nggak bisa (atau malah nggak mau) ngebantuin. wajar sih, mereka kan juga benci aku. mungkin, mereka heran, nih bocah dimarahi tiap hari kok malah bertahan. dan keheranan itu mencuatkan prasangka: aku sekadar jual muka ke darth vader.

well, biarlah. let the past goes by. sekarang aku udah lepas dari dunia media. nongkrong manis di rumah, bikin kesibukan baru sebagai ibu rumah tangga. termasuk ikutan pe-ka-ka. sampai dua hari lalu, ternyata…

aku didapuk jadi ketua pe-ka-ka!

nasib… nasib…

_________
* darth vader: you know who; pucuk pimpinan (de facto, bukan de jure) je-pe yang melahirkan konsep spektakuler bernama deteksi; bocah pecinta amrik yang narsis luar biasa dan memimpin je-pe (terutama deteksi) dengan tangan besi, wajah aluminium, otot kawat, dan tulang baja
** je-pe: jawa pos


- i may not like what you say, but i’ll fight to defend your right to say it. -

2 Comments:

Anonymous joe the ant said...

Huebat tuenan.... Jadi ketua PKK...
Selamat nak.... Cita-citamu telah tercapai....
Yah, kalo gitoh... ntar bpk Iwe bisa dong digadang2 jadi Pak RT periode 2006 -selesai. Keren kali yah...
Soalnya, di bumi pertiwi ini kayaknya belom ada deh Pak RT yang seorang Disain Grafis.
Itung2 meningkatkan derajat para disainer grafis...
Amin.... Ya Rabbal Alamin.. **


** = Ucapan setelah selesai rapat PKK di kampung

July 22, 2005 4:46 PM  
Blogger bintang-pagi said...

cok parah pak nasibmu
nek aku bunuh diri ae
wuakakakakak
rasane pasti parah pak...
selamat ngegosip tentang goyang ranjang dan makanan anak2 sama tante2 itu yah...
jijik
hahahahahaghhaha
aku kangen

July 29, 2005 11:10 PM  

Post a Comment

<< Home