remote control dan delivery order
manusia. makhluk paling mengagumkan. selalu sanggup menemukan solusi dari tiap masalah. selalu sanggup menciptakan alat-alat yang bikin hidup terasa lebih gampang dan nyaman.
ironisnya, makin tua peradaban, makin identik pula penghuninya dengan kemalesan. dua produk peradaban modern yang menggambarkan kalimat barusan: remote control dan delivery order.
nah, sebagai bagian dari peradaban canggih bin males ini, aku pun memuja remote control. tanpa yang satu itu, pasti garing hari-hariku. i sooo can’t live without it!
bayangin aja, saban pengin nonton dvd, aku cukup menekan—secara berturut-turut—tombol on, open, close, menu, enter, dan play. kelar nonton, cukup tekan stop (dua kali), open, close, dan off. sayang, satu tombol masih ”hilang”: tombol yang secara otomatis bisa menaruh (dan mencomot keluar) kepingan dvd tepat di (dan dari) disc drive-nya player. begitu tombol itu ditemuin, entah berapa tahun kelak, lengkaplah kebahagiaanku, hehehe…
eniwei, dua hari lalu—lantaran hari pertama menstruasi—aku mutusin libur sehari penuh. libur masak, libur nyuci, libur ngepel, libur mijitin punggung iwan iwe. kegiatan hari itu: nonton dvd band of brothers untuk kesepuluh kalinya, dari episode satu sampe sepuluh, plus dokumenternya.
jam sepuluh pagi aku stand by di depan tipi. lengkap dengan bantal, guling, selimut tebel, lima kantung cheetos, segelas susu cokelat hangat, satu pak mild merah, dan—tentu saja, what else?!—remote control.
di akhir episode keenam, episode paling bikin jantungan (bastogne, anyone?), aku sontak pengin ditemenin produk peradaban terhebat lainnya: delivery order.
abis melototin bom-bom tank andalan jenderal guderian menghancurkan foxhole barisan depan easy company, antiklimaksnya sembari menyantap cheeseburger, choco milkshake, dan french fries ukuran medium. sedaaap…
alhasil, begitu cordless (ini juga produk peradaban yang asyik) dalam genggaman, langsung kupencet nomor 14045. sebutin pesanan, tinggal tunggu konfirmasi, dan 20 menit berikutnya… voila! cowok berseragam merah nongol, nyodorin pesananku. tapi ternyata…
tulilut tulilut tulilut
(mbak bersuara merdu) : halo, dengan mbak dian ara? kami dari mcd fontana.
dian ara : iya, mbak. bener, ini dian ara.
(mbak bersuara merdu) : begini, mbak dian. sebelumnya kami minta maaf. kami memiliki batasan area untuk delivery order, dan rumah mbak ternyata tidak termasuk dalam area itu.
dian ara : terus?
(mbak bersuara merdu) : kami telah menghubungi mcd sidoarjo. ternyata rumah mbak juga nggak termasuk dalam area yang mereka cover.
dian ara : terus?
(mbak bersuara merdu) : kami telah mengecek kantor pusat, ternyata rumah mbak nggak termasuk dalam area mcd mana pun di surabaya maupun sidoarjo.
dian ara : terus?
(mbak bersuara merdu) : mohon maaf, pesanan mbak terpaksa kami cancel. terima kasih ya, mbak dian.
dian ara : …
sialaaan!
- i may not like what you say, but i’ll fight to defend your right to say it. -
ironisnya, makin tua peradaban, makin identik pula penghuninya dengan kemalesan. dua produk peradaban modern yang menggambarkan kalimat barusan: remote control dan delivery order.
nah, sebagai bagian dari peradaban canggih bin males ini, aku pun memuja remote control. tanpa yang satu itu, pasti garing hari-hariku. i sooo can’t live without it!
bayangin aja, saban pengin nonton dvd, aku cukup menekan—secara berturut-turut—tombol on, open, close, menu, enter, dan play. kelar nonton, cukup tekan stop (dua kali), open, close, dan off. sayang, satu tombol masih ”hilang”: tombol yang secara otomatis bisa menaruh (dan mencomot keluar) kepingan dvd tepat di (dan dari) disc drive-nya player. begitu tombol itu ditemuin, entah berapa tahun kelak, lengkaplah kebahagiaanku, hehehe…
eniwei, dua hari lalu—lantaran hari pertama menstruasi—aku mutusin libur sehari penuh. libur masak, libur nyuci, libur ngepel, libur mijitin punggung iwan iwe. kegiatan hari itu: nonton dvd band of brothers untuk kesepuluh kalinya, dari episode satu sampe sepuluh, plus dokumenternya.
jam sepuluh pagi aku stand by di depan tipi. lengkap dengan bantal, guling, selimut tebel, lima kantung cheetos, segelas susu cokelat hangat, satu pak mild merah, dan—tentu saja, what else?!—remote control.
di akhir episode keenam, episode paling bikin jantungan (bastogne, anyone?), aku sontak pengin ditemenin produk peradaban terhebat lainnya: delivery order.
abis melototin bom-bom tank andalan jenderal guderian menghancurkan foxhole barisan depan easy company, antiklimaksnya sembari menyantap cheeseburger, choco milkshake, dan french fries ukuran medium. sedaaap…
alhasil, begitu cordless (ini juga produk peradaban yang asyik) dalam genggaman, langsung kupencet nomor 14045. sebutin pesanan, tinggal tunggu konfirmasi, dan 20 menit berikutnya… voila! cowok berseragam merah nongol, nyodorin pesananku. tapi ternyata…
tulilut tulilut tulilut
(mbak bersuara merdu) : halo, dengan mbak dian ara? kami dari mcd fontana.
dian ara : iya, mbak. bener, ini dian ara.
(mbak bersuara merdu) : begini, mbak dian. sebelumnya kami minta maaf. kami memiliki batasan area untuk delivery order, dan rumah mbak ternyata tidak termasuk dalam area itu.
dian ara : terus?
(mbak bersuara merdu) : kami telah menghubungi mcd sidoarjo. ternyata rumah mbak juga nggak termasuk dalam area yang mereka cover.
dian ara : terus?
(mbak bersuara merdu) : kami telah mengecek kantor pusat, ternyata rumah mbak nggak termasuk dalam area mcd mana pun di surabaya maupun sidoarjo.
dian ara : terus?
(mbak bersuara merdu) : mohon maaf, pesanan mbak terpaksa kami cancel. terima kasih ya, mbak dian.
dian ara : …
sialaaan!
- i may not like what you say, but i’ll fight to defend your right to say it. -
2 Comments:
wuakakakaka. skarang semuanya emang serba instan. tapi jadinya malah tubuh kita nggak gerak alias males. makanya skarang gw klo nonton dvd/bokep gak pake remote. jd klo mo nge rewind/ffw harus maju mundur. olah raga dikit gitu maksudnya. hihihi.
btw, konon katanya orang yg kerjaannya nonton tipi sharian namanya couch potato. hehe
kalo nonton bokep mah, buntut2nya lo juga pasti "olahraga", hehehe...
Post a Comment
<< Home